image

Mumpung selo Sa akan menulis tentang budaya NYUMBANG/MEMBANTU saat tetangga, teman, kerabat yang sedang punya gawe/hajat.
Budaya yang sudah ada di tempat tinggal Sa sedjak dulu kala, mungkin budaya ini juga ada di tempat anda tinggal. Nyumbang bisa dalam bentuk duit, beras, gula, teh maupun bahan pokok lainnya, biasanya orang-orang memilih nyumbang duit karena lebih mudah dan ringkas (kalo ada). Tujuan nyumbang sebenarnya hanya untuk sedikit membantu sesama dan ajang mempererat silaturahmi. Acara hajat yang biasanya disumbang antara lain Kelahiran, Pernikahan, Kematian.

Kelahiran adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh pasangan suami istri (resmi/siri) saat memperoleh keturunan. Biasanya orang tua akan mengadakan upacara aqiqah atau selamatan dalam rangka syukuran karena sudah diberi rizeki oleh Tuhan. Biasanya selametan diadakan pada hari ke-35 (selapan) setelah bayi lahir. Tetangga, teman, kerabat menyumbang sebelum upacara selametan.

Pernikahan adalah momen yang sakral untuk menyatukan 2 insan manusia dan 2 keluarga besar menjadi besanan/saudara. Pernikahan bisa direncanakan jauh-jauh hari, jadi bisa dikonsep yang sederhana maupun bermewah-mewahan, itu tergantung kantong yang punya hajat. Tetangga, teman, kerabat biasanya menyumbang beberapa hari sebelum hari H atau pas hari H sambil njagong manten.

Kematian tidak bisa direncana oleh manusia, itu semua adalah rahasia Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa mempersiapkan sangu untuk dibawa mati. Saat kematian tiba tetangga, teman, kerabat pasti berduka cita karena ditinggal selama-lamanya, biasanya pihak keluarga akan mengadakan selamatan doa bersama (pembacaan yaasin/tahlil) dengan tujuan agar dosa-dosa almarhum di dunia bisa diampuni oleh Tuhan. Biasanya memperingati doa pada 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 1000 hari setelah kematian. Tetangga, teman, kerabat menyumbang pada hari-hari peringatan tersebut.

Ini yang masih menjadi persoalan, membantu sebenarnya perilaku suka rela tapi dalam menyumbang orang yang punya hajatan terkesan dipaksakan/diharuskan.
Contoh sederhana, yang sering terjadi dimasyarakat. Kita tidak tau kondisi kantong masing-masing orang, saat kantong tipis ada tetangga dekat yang mau punya hajat mau atau tidak mau harus menyumbang. Karena punya rasa tidak nyaman bila tidak menyumbang, tapi kalo menyumbang kantong tipis, akhirnya berhutang kepada tetangga lain. Ini ironis, kita mau nyumbang tapi harus berhutang kepada orang lain. Nyumbangnya jadi terkesan tidak ikhlas, karena batin yang terganjal hutang.

Nyumbang hajatan beda dengan nyumbang bencana alam, nilai sumbangan hajatan punya standar khusus sendiri, walaupun setiap daerah standarnya berbeda-beda. Nilai standar sumbangan ini bukan patokan khusus hanya megkira-kira pantasnya, mengikuti harga kebutuhan. Misal, jika nyumbang duit minimal Rp. 50.000,- atau beras harus 10 kg, jika dibawah standar itu terkesan tidak wangun atau kurang pantas.

Inilah budaya jawa yang masih dilestarikan, dimana sifat gotong royong masyarakatnya masih terjaga. Tidak seperti masyarakat lainnya, tetangga punya hajat malah acuh tak acuh.

Daerah anda apa masih ada budaya nyumbang pada saat hajatan ?

Iklan