Siang menjelang sore hujan cukup deras disertai angin mobat mabit dan bledheg sesekali menyambar. Mungkin ini adalah hujan paling deras pada awal musim penghujan bulan ini.

Seperti biasa saat hujan cukup lebat, petugas PLN tidak mau mengambil resiko dan untuk menjaga keamanan warga terpaksa memadamkan listrik untuk sementara. Entah kebetulan atau ndak batrai android low, jadi ndak bisa ngecarge. Android jadi teman setia saat selo mungkin hanya sekedar untuk liat-liat timeline, melihat status-status facebook, wasapan atau cuma untuk mendengarkan lagu saja.
Tapi hujan, batrai low, dan listrik padam dalam waktu yang bersamaan, bingung mau melakukan kegiatan apa. 😐

Saat itu juga saya gletekkan android yang bentar lagi mati diatas sepiker, lalu ku melangkah keluar rumah duduk di lincak teras sambil memandangi hujan turun dan sesekali mendengar suara bledheg. Disitu mungkin hanya blah bloh ndak jelas, tapi pikiran ini jauh melangkah kearah depan.
Membayangkan tentang tempat tinggal masa depan, karena melihat rumah-rumah tetangga yang berdiri kokoh saat diguyur air hujan.

Mencoba bertanya pada diri sendiri apakah besok bisa mendirikan rumah dengan jerih payah usaha sendiri atau akan selamanya akan menetap bareng orang tua dirumah sederhana ini. Mungkin ini terlalu dini untuk saya yang masih berumur belasan, tapi ndak salah kan untuk menghayal tentang masa depan.

Mungkin ini jadi renungan juga, saya harus bekerja keras dari sekarang untuk dapat membangun rumah yang layak. Saya juga tau untuk dapat membangun rumah biayanya tidak sedikit ditambah dengan kondisi sekarang apa-apa harga naik. Ndak tau kapan dapat merealisasikan itu semua, mungkin suatu saat nanti. Yang penting sudah ada niat dan usaha dari sekarang, semoga Tuhan memberi jalan lurus untuk hambanya…

ditulis ketika hujan sudah reda dan listrik udah ndak padam

Iklan