Mona namaku, tapi bukan monalisha si pemilik senyum terindah didunia dalam lukisan legendaris Da Vinci. Ah, manusia memang suka berlebihan ya, lebai! Masak sih, hanya lukisan senyumnya bisa mematahkan hati banyak laki-laki. Senyum memang pelengkap sempurnanya manusia, sederhana dan mudah sih, tapi banyak juga yang pelit melakukannya, Heran.

“Hai Mona.” sapa Mosha.
“Aku punya cerita indah untukmu hari ini.” Mosha pun memelukku hangat, membelai rambutku dan tentu saja menciumku berkali-kali.

Selalu begitu kerinduanku pada Mosha, mungkin kalau ditarik benang akan selalu setimbang.
“Aku ketemu cowok keren banget hari ini,” Mosha menatapku dengan rona bahagia.
Dan meluncurlah kebahagiaan itu. Bagaimana ia jatuh cinta dibuatnya.
Ya, Mosha jatuh cinta kepada Obenk. Cowok dengan nama yang aneh. Seperti nama peralatan tukang listrik dan bengkel.
“Jangan diketawain dong, namanya unik ya, seperti orangnya.” kata gadis yang kini selalu berponi.
Katanya, obenk itu berarti alat-alat yang bisa melepaskan sekrup dari bautnya.
Nah, Obenk yang ini kata gadis perantau yang sering pindah kost ini, beda banget! Obenk telah membuka hatinya yang terkunci lama karena patah hatinya dimasa lampau. Patah hati yang membuat nekat ke Jakarta, meski baru lulus SMA waktu itu. Kepergian yang sedikit nekat dan telah meruntuhkan air mata ibundanya.

Ya, dulu Mosha berderai-derai air mata ketika kekasih yang rajin menyambangi hatinya serta banyak bicara masa depan meninggalkannya tanpa alasan. Pergi begitu saja. Aku ingat Mosha masih berseragam sekolah kelas II SMA. Waktu itu masih di Pekanbaru, dikota ia lahir dan dibesarkan.
Kota tempatnya tumbuh menjadi anak yang manis, menjadi anak yang menyenangkan dan membanggakan orang tuanya.
Meski agak minder, tapi sungguh tak bisa diingkari kalau Mosha gadis yang cantik. Kalau pun berderet empat orang cantik, aku yakin Mosha adalah cewek paling cantik diantaranya. Aku tidak bohong, karena Mosha selalu bilang selain aku melihat sendiri bila mereka datang ke rumah. Neta cantik dan sangat pendiam. Sama pendiamnya dengan Mosha. Sesha juga cantik, terus Echa cantik meski agak jutek. Aku senang kalau mereka berkumpul, meski yang dominan bicara itu Sesha dan Echa.
Mereka bersahabat baik. Meski kebaikan itu tidak selalu abadi. Salah satu dari mereka tampak menikmati ketika Mosha patah hati!
Aku tak perlu bilang siapa itu.

Mulanya adalah Rona, sepupunya dari Jakarta datang berlibur ke Pekanbaru. Biasalah, anak Jakarta. Percaya dirinya lebih. Liburan tengah semester itu pun indah buat Rona, tapi petaka untuk Mosha.

“Temen lu oke juga, Sha?” kata Rona saat tiduran bersama Mosha seusai menjelajah Pekanbaru seharian.
“Teman yang mana, tadi kan banyak?” sahut Mosha.
“Satu-satunya cowok lah, sang driver.”
“Oh, itu Rendi, kakak kelasku.”
“Ooo, nggak sekelas? kok mau sih anter-anter kita?”
“Dia emang baik.” Mosha memuji Rendi, cowok yang dekat dengannya setengah tahun ini.
Cowok yang membuat irit uang sakunya karena selalu menjemput dan mengantarkannya pulang sekolah.
“Cowok lu ya?” tuduh Rona tiba-tiba duduk dan menatap Mosha dengan penuh goda.
Mosha dibuat salah tingkah dan kaku seketika. Ia tak bisa mengelak.
Memang itulah kenyataannya. Tapi pentingkah untuk menjawab pertanyaan Rona?
Ah, sampai hampir setengah tahun dekat dan sering bersama dengan Rendipun, ada pertanyaan yang tak pernah dijawabnya.
Pertanyaan Rendi yang sudah berulang kali ditegaskan dalam berbagai kesempatan.
“Maukah kamu jadi pacarku, Sha?” Setengah tahun menggantungkan pertanyaan, itukah alasan Rendi pergi?

Sungguh Mosha tak bermaksud menggantungkannya. Dia ceritakan semuanya padaku. Dengan derai air mata, dengan rasa perih dan pedih yang terus membuat luka hatinya mengangah.
“Apa cinta harus di iyakan dengan kata-kata, Mona?” aku rasai tetesan air matanya, “Nggak kan? Nggak
harus kan?” Tentu saja tidak!
Cuma orang kan tidak semuanya seperti apa yang kita ingini. Sekalipun dia orang yang sangat kita cintai. Orang yang dekat secara fisik dan rasa. Kita tidak bisa memaksa orang mengikuti apa yang kita maui. Karena itulah bahasa diciptakan bermacam ragamnya. Karena, dengan bahasa, bisa dijelaskan semua persoalan, dijawab semua pertanyaan, dan diberikan jalan keluar bagi semua carut marut masalah rumit sekalipun.
“Aku salah ya, Mon?”

Kadang salah atau benar kan susah ukurannya. Kalau kita lagi suka, lagi senang, bahkan yang salah pun dicari-cari pembenarannya. Jadi seolah-olah yang kita lakukan benar, walau seolah-olah sama saja.
Semu, tapi kalau sudah benci, kebenaran yang nyata tak akan tampak walau tepat di depan mata.
“Aku hanya ingin dia tahu, jawabanku adalah ia bisa berlaku beda padaku, dia bisa menjemputku, meski mula mula risih, aku akhirnya mau. Dia memaksa pulang bareng, meski semula aku ragu, akhirnya aku mau.”
Ya, sudahlah!
“Itu kan jawaban, Mon. masak anak secerdas itu tidak paham!” kali ini kalimatnya.
“Apa cinta harus di iyakan dengan kata-kata, Mona?”
“Nggak kan? Nggak harus kan?” tekanan memekik ujungnya.
Mosha kesal dalam rasa sesal. Dan tentu saja kecewa bukan kepalang.
Ah, kamu juga cerdas, Mosha, tapi kamu belum cukup pintar tentang dunia rasa. Dunia cinta yang terus-menerus menarik energimu untuk terus terikat padanya. Cinta di usia belasan memang labilnya bukan main. Kadang meledak-ledak, tidak terkontrol, dan banyak yang bablas, kandas dalam jurang kenistaan yang sesalnya tak habis hingga usia tua. Mengandangkan malu ke muka semua anggota keluarga, mengundang cibir dan memanen tatap sinis setiap pasang mata yang berpapasan.
Baguslah, kamu tak terjerumus, Mosha.
“Akan aku buktikan, Mon, aku bisa lebih baik dari dia!” katanya setelah beberapa waktu terdiam.
Mona memelukku lekat sekali. Aku hampir sesak nafas dibuatnya.
“Rendi akan menyesal meninggalkanku.” Aku terpukau dibuatnya. Mosha memang berbeda. Meski belia, dia dewasa. Baginya cinta bukan sekedar kata-kata.
Tapi pembuktian.
Pembuktian?
Haha…
Dan kini beberapa tahun setelah lulus, kemudian kaki dan tubuhnya singgah di Jakarta. Mosha pun semakin dewasa. Ilmu psikologi yang jadi pilihan kuliahnya di Universitas terpilih di Indonesia pun semakin memoles kedewasaannya.
“Kali ini hatiku mantap, Mon!”
Aih. Lama sekali aku tak melihat binar mata yang bergelora karena cinta dari Mosha.
Sungguh, selama ini, semenjak tekadnya diucapkan. Ia bergerak diwilayah yang sedemikian sempit. Sekolah, belajar, bimbingan belajar. Demi UN, demi lulus seleksi perguruan tinggi idamannya.
Energinya tumpah ruah fokus dalam cita-citanya. Demi pembuktiannya.
“Meski nggak cakep banget, tapi Obenk kharismatik.” tuturnya masih dengan wajah cerah.
“Bila bicara, semua tubuhnya bicara. Bila tersenyum, bukan hanya bibirnya tapi semua tubuhnya tersenyum”
Ah, jatuh cinta memang selalu luar biasa. Aku bisa merasakan itu. Tapi memang iya sih, banyak orang bicara, hanya sebatas lidahnya. Banyak orang tersenyum hanya dibibirnya. Kaku tak bertenaga tak menyiratkan ketulusan.
“Dia tak bertanya, apa aku mau jadi pacarnya. Tapi aku merasa dia, memperlakukan aku dengan istimewa. Banyak hal khusus dia tunjukkan padaku. Dia sangat menghormati perempuan. Aku suka!
Aku jatuh cinta, Mon!”
Hupssss! Lagi-lagi aku dipeluknya erat. Didekapnya lekat hingga sesak.
Lalu melemparku hampir kelangit-langit kamar kostnya.
Dan bergegas menangkapnya lagi, memelukku lagi, membuatku sesak lagi, setelah diciuminya sampai membuat hidungnya geli sendiri. Mosha memang selalu memperlakukanku berlebihan. Walau aku senang, kemana saja Mosha pergi aku selalu dibawanya. Aku sudah bersamanya semenjak ulang tahunnya ke-14. Saat ia SMP. Aku dihadiahkan papanya sepulang dari Singapura.
“Sampai kapan pun, kamulah teman hatiku, Mona.” kata Mosha di malam ulang tahunnya ke-17.
Ketika itu aku, sebuah boneka anjing pudel yang mulai dekil bulu-bulunya.

TAMAT

Sumber: ..::GGG FOREVER::..

Original karya: @MoMo_GEISHA

Iklan