Sebelumnya Remuk Jantungku part 1

 

“Hay Rob” sapa Nard guru vocal Ova.
“Hay Nard” jawab Roby sambil tersenyum.
Tangan Roby masih menggenggam erat tangan Ova.
“Ehem, tuh tangan lengket aja?” goda Nard pada Ova dan Roby.
Roby terkekeh.

“Idih kak Nard sirik aja nih.” ceplos Ova menjulurkan lidah kearah Nard.
“Yee nih anak pake melet-melet lagi” kata Nard sambil tertawa.
“Kita mulai aja latihannya!” sambung Nard.
“oke!” Ova semangat banget hari ini. Dengan isyarat tangan ‘oke’nya dia mulai melepas gandengan Roby.
“Aku latihan dulu ya?” ucapnya pada pangeran Lesungnya.
Ova mulai menunjukan bakat tarik suaranya.
Suara indah yang melengking tinggi. Saat Ova berlatih menggunakan musik, Nard mendekati Roby.
“Hidung lo berdarah Rob” ucap Nard mendapati cairan merah mengalir lewat hidung Roby. Roby segera mengelapnya dengan tissue.
“Lo sakit?” tanya Nard.
“Nggak kok, cuma mimisan aja paling” jawab Roby enteng. “Ohh… sukur deh ” Nard menghela nafas lega.

‘Kau buat hatiku bicara,
Cinta… sungguhku
cinta…’ Ponsel Roby mendenging.
Ada panggilan masuk. Roby segera menghindar dari Nard untuk mengangkat telefon.
“Gue udah dapet donor korneanya” suara berat Aan diseberang.
“Bener sob, thank’s banget ya.” jawab Roby girang.
Usahanya untuk membuat malaikat hatinya bisa melihat lagi akhirnya akan terwujud.
“Thank’s God.” ucapnya lirih.

*****
20 oktober 2010, Tepat 1 tahun hari jadi Ova dan Roby. Tepat hari dimana Ova akan bisa melihat lagi. Dan tepat hari terakhir Roby hidup menemani putri poninya. Pagi ini darah terus merembes lewat rongga hidung Roby. Roby pun memutuskan untuk menemui Aan dulu sebelum kerumah Ova.
“Please Sob dengerin gue, Lo harus dirawat sekarang” bentak Aan pada Roby.
Roby hanya tersenyum pilu.
“Nggak An!” ucapnya tenang.
“Kenapa!” Aan kembali membentak.
“Hari ini Ova untuk pertama kalinya bisa melihat lagi. Gue harus ngasih yang terbaik buat dia sebelum akhirnya gue pergi.” jelas Roby.
Pelan-pelan Ova membuka matanya. Dengan hati-hati dia melihat sekelilingnya. Roby dan Dhan tersenyum lega disusul senyum Ova. Dhanpun langsung memeluk dan mencium kening Ova. Demikian pula dengan Roby.

*****
Rasa haru plus seneng bercampur dihati Ova, Dhan juga Roby.
“Ehemm, Ova pengen bikin minum buat kalian” seru Ova bersemangat.
“15 maju, 7 kiri, 5 maju” Ova menghitung langkahnya menuju dapur seperti yang dilakukannya dulu saat masih buta.
Dhan dan Roby hanya terkekeh melihat ulah lucu Ova.
“Masih aja kaya dulu” ujar Dhan.
Roby kembali tersenyum sambil memegang mulutnya.
“Idung lo Rob!” seru Dhan.
Darah segar kembali mengalir dari hidung Roby ketika Ova telah siap membawa nampannya.
“Segitu parahkah Rob?” lanjut Dhan. “Leukimia stadium akhir Dhan” jawab Roby singkat.
Dia masih sibuk membersihkan darahnya.
‘PPRRAAAANGGG…’
Nampan yang dibawa Ova tergelak dilantai disusul tubuh Ova yang lemas mendengar obrolan Roby dan kakaknya.
Tangisnya membanjir. Roby segera memeluk Ova yang tergeletak lemas.
“Ova…” bisik Roby sembari mendaratkan kecupan di kening Ova.
Ova tak menjawab masih terisak dipelukan Roby. Ova mulai berontak. Didorongnya tubuh
lemah Roby. Dia marah. Marah karena begitu bodoh sampai tak tau kalo Roby sedang sekarat. Tapi Roby tak jera memeluk Ova. Meski Ova terus meronta.
“Kenapa Roby, kenapa?” isak Ova.
“Sayang, hal ini lah yang aku khawatirkan. Kau akan menangis karenaku. Sedang aku, sama sekali tak mau liat kamu nangis.” jelas Roby.
“Aku emang bodoh Roby. Sampai hal penting seperti inipun aku nggak tau.” lanjut Ova.
“Nggak sayang, nggak…” sekali lagi Roby mencium kening Ova.
Tangisnya pun mulai mengalir.
“Maafkan aku sayang.” bisiknya kemudian.

Ova mulai terlihat tenang. Mata sipitnya makin menyipit karena lebam bekas tangis.

*****
“Mau ikut aku?” pinta Roby.
“Kemana?” jawab Ova.
“Hari ini aku untukmu. Aku akan berikan dunia buat kamu. Sehari penuh” Roby bersemangat.
Ova hanya tersenyum.
Senyum pilu menahan tangis.
“Lelaki ini, begitu mencintaiku Tuhan. Kenapa tak Kau beri waktu lagi untuknya?
Kenapa tak Kau beri kesempatan untukku untuk membalas cintanya. Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku. Izinkan aku membuktikan padanya bahwa akupun teramat mencintainya” batin Ova sembari meneteskan air matanya.

*****
“Kamu tau tempat ini?” tanya Roby.
“Bukit Bintang.” jawab Ova pasti.
Mereka berdua duduk diatas bukit sembari melihat percikan bintang dilangit malam ini.
“Malam yang indah.” ucap Roby sambil melengos tersenyum ke arah Ova.
Ova tersenyum mengiyakan.
“Ini buat kamu.” kata Roby sembari ngasih walkman ke Ova.
Kening Ova berkerut. Tak mengerti maksud cowok yang dicintainya itu.
“HAPPY ANNIVERSARY 1 tahun kita bareng sayang” Roby mengecup kening Ova dengan lembut.
“Aku pengen suatu saat kamu nyanyiin lagu itu” lanjutnya. Ova tersenyum.

“Pasti” jawab Ova singkat.
Roby lalu memasangkan earphone ditelinga Ova. Dengan lembut dan senyum yang terus mengembang Roby memandangi wajah Ova. Lalu mereka kembali menatap lukisan alam yang tergambar indah.
Saat lagu yang terdengar Ova habis, tiba-tiba bahunya terasa berat. Kepala Roby terjatuh dibahu Ova.
‘Remuk Jantungkuu…’
Kalimat terakhir di lagu Roby yang Ova dengar. Ova segera membangunkan Roby.
Tapi Roby tetap diam.
Roby telah pergi. Pergi tuk selamanya.
Meninggalkan catatan manis di hidup Ova.
“ROBY…!” jerit Ova keras dan terisak.

*****
‘Karena kamu nyawaku,
Karna kamu nafasku,
Karna kamu jantungku,
Rapuh hidupku,
Remuk jantungku.’
Ova membuka mata basahnya. Dia sudah menepati janjinya pada Roby.
‘Remuk Jantungku’ lagu pamungkas konser tunggalnya sukses ia bawakan. Ova begitu menghayati lagu itu sembari membayangkan kisahnya bersama Roby. Semua penonton bertepuk tangan.
Begitu pun Dhan, Aan, dan Nard. Ova tersenyum puas.
“Sayang, pangeran lesungku aku merindukanmu. Dan aku masih mencintaimu. Roby” batin Ova.
Ova kembali terpejam. Kalimat-kalimat cinta Roby kembali membayang dipikiran Ova.

“Putri poni… Mungkin saat kau mendengar ini. Aku sudah tidak ada disisimu lagi. Tapi sungguh tak ada niatku buat kau sendiri. Maaf sayang,
Aku tak memberi tahumu dahulu. Aku hanya tak ingin lihat kau menangisiku. Tapi yakinlah sayang. Aku tetap mencintaimu. Dan selalu menyayangimu sampai akhir hayatku.”

‘Tanpa kamu ku lemah,
Tanpa kamu ku resah,
Tanpa kamu ku gundah,
Karna kamu,
Remuk jantungku.’

Sumber: ..::GGG FOREVER::…

Original karya: Ailfairy Sa’adah Tadzkiroh

Iklan