“Sulit kukira kehilangannya,
Sakit terasa memikirkannya,
Hancur warasku kau t’lah berlalu,
Tinggalkan aku begitu,
Rapuh hidupku,
Remuk jantungku.”

‘tin… tinn…’
Suara klakson mobil terdengar sampai dikamar Ova. Dengan sigap gadis manis berponi itu pun segera merapikan lagi dandanannya. Setelah merasa semuanya beres, dia pun segera keluar untuk menemui pengendara mobil.
“Cie… Cantik bener adek kakak,” goda Dhan kakak Ova.
Ova hanya tersenyum renyah menampakkan gingsulnya yang menambah ayu parasnya.
“Ova pergi dulu kak” pamit Ova sembari meninggalkan Dhan yang sedang duduk santai.
Tiba-tiba Dhan segera menyusul Ova,
“Bentar, bentar…” Dhan langsung mengacak-acak poni Ova.
Ovapun berteriak kesal sambil ngebenerin poninya.
“Hati-hati ya sayang,” goda Dhan lagi.
“Siap boss!” jawab Ova ceria.
Sesampainya diluar rumah Ova disambut ramah cowok tampan pacarnya.
“Malem putri poniku sayang” sapa Roby.
“Malem pangeran lesungku” jawab Ova ramah.
Robypun segera menuntun Ova masuk ke dalam mobil.
“Siap berwisata malam Sang Putri?” seru Roby.
Ova hanya tersenyum sembari memberi isyarat ‘oke’.
“Mau kemana kita?” tanya Ova.
Roby enggan memberi tau malah menyuruh Ova menutup matanya. Mendengar apa yang
diucapkan Roby.

Ova sedikit terbahak.
“Tanpa tutup mata aku nggak bisa liat apapun,” ucap Ova.
“Termasuk kamu” lirihnya lagi mulai menampakan wajah sedih.
“Huusst, kamu nggak boleh ngomong seperti itu lagi” kata Roby menyangkal ucapan Ova.
Ova hanya tersenyum kecut.
“Tapi itulah kenyataannya Roby” sambung Ova lagi.
“Kamu nggak usah khawatir atau pun sedih sayang, karena ada aku. Aku yang akan selalu jadi mata kamu, dan menunjukkan semua warna dunia yang belum bisa kamu liat” tegas Roby sambil memeluk Ova.
Ova tak bisa menyembunyikan tangis bahagianya. Sejenak mereka larut dalam suasana sendu itu. Akhirnya Ova menuruti Roby untuk menutup mata. Sambil merangkul Ova, Roby menuntun gadis pujaannya itu keatas Bukit Bintang tempat favoritnya bersama Ova.

*****

“Sekarang kamu boleh buka mata, kamu tau ini dimana?” ucap Roby setibanya mereka ditempat tujuan.
“BUKIT BINTANG” dengan pasti Ova menjawab pertanyaan Roby.
‘Prok, prok, prok…’
Roby bertepuk tangan mendengar jawaban Ova.
“Kamu hebat :*” Roby mencium lembut kening Ova.
Ova hanya tersenyum, tersipu malu tepatnya.
Merekapun duduk berdua menikmati lukisan alam dengan jutaan bintang dilangit. Dengan sabar, Roby menceritakan apa yang dilihatnya pada Ova. Yah, beginilah caranya menunjukan dunia pada kekasihnya.
Baginya Ova adalah hal paling berharga dihidupnya. Tanpa Ova dia nggak akan disini. Dulu, Roby itu cowok urakan yang nggak berguna. Sampahhh!. Dia juga penggila balap liar. Tapi suatu ketika Roby mengalami kecelakaan. Dia hampir mati kehabisan darah.
Semua orang yang mengenalnya tak ada yang mau mendonorkan darah untuknya. Tapi Ova, dengan senang hati Ova memberikan darahnya untuk Roby.
Ova rela membatalkan jadwal kontrol matanya demi Roby. Sejak itulah Roby selalu memikirkan Ova, bidadari sekaligus malaikatnya kini.

*****
Hari ini adalah jadwal Ova latian nyanyi. Roby sudah siap untuk menjemput Ova dirumahnya. Dengan pasti Roby melangkah menuju mobilnya yang terparkir dihalaman rumah. Dia tampak begitu senang akan menemui Ova.
Senyumnya terus mengembang menampakkan kedua cekungan dipipinya. Lesung pipi yang membuat Roby semakin terlihat manis.

Roby sudah siap membuka pintu mobil ketika darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Tak hanya itu, kepala Roby pun terasa berat dan sakit. Roby tumbang. Dia pingsan didepan mobilnya.
Sementara itu, Ova yang sudah bersiap dirumahnya kesal karena Roby nggak
dateng-dateng. Padahal Ova udah nunggu hampir 1 jam.
“Roby belum dateng juga?” tanya Dhan pelan.
Ova hanya mengangguk sambil menggembungkan pipi cubbinya.
“Kakak anterin aja ya?” tawar Dhan tak tahan melihat adik cantiknya cemberut.
Tapi Ova tetap bungkam, dia hanya mengangguk.
“Idikh kenapa nih adik kakak kok jadi nggak bisa ngomong gini?” goda Dhan sambil mengacak-acak poni Ova. Taktiknya sukses. Ova akhirnya bersuara.
“Kakaaak!” teriak Ova.

*****
Seharian Ova nggak dapet kabar dari Roby. Sejak Roby batal mengantarnya ketempat les vokalnya.
Hari ini pun dari pagi Ova belum dapat kabar. Udah 2 janji yang Roby batalin. Ngebuat Ova kesal plus cemas.
“Nggak biasanya Roby ngilang tanpa kabar gini” batin Ova.
Akhirnya jadwal kontrol matanya hari ini pun dia ditemani Dhan.
Ova segera menemui dokter ketika namanya dipanggil. Dengan sabar Dhan menunggu adiknya diruang tunggu. Tiba-tiba perhatian Dhan tersita pada satu pasien yang dikenalnya baru keluar dari ruang dokter.
“Roby..” lirih Dhan.
Yah, dia adalah Roby.
Roby terlihat masih mengobrol dengan dokter Aan.
“Jadi berapa lama lagi waktu aku sob?” ucap Roby penasaran pada dokter Aan yang juga sohibnya.
“Dua minggu Rob.” sesal Aan sambil menepuk bahu Roby.
Menenangkan Roby tepatnya. Roby masih pucat. Dia nggak sanggup membayangkan sisa hidupnya yang tinggal dua minggu.
“Aaaaarrrrggghh!” teriak Roby sambil memukulkan tinju ketembok.
“Makanya, mulai besok kamu harus dirawat intensif di RS!” sambung Aan.
“Nggak An, buat apa aku dirawat kalo endingnya aku bakal mati juga.” berontak Roby.
Dia mulai lemas dan terduduk di lantai.
“Kak Dhan?” seru Ova ketika keluar dari ruangan. Suara yang begitu di kenal Roby.
“Ova?” bisik Roby saat apa yang melayang di otaknya benar.
“Ova ada di sini ” batinnya.
“Dhan!” ucap Ova lirih begitu sadar Dhan memperhatikannya.
Tapi Dhan hanya diam, sembari menuntun adiknya ke arah Roby. Dengan sigap Roby menarik Dhan.
“Please Dhan jangan kasih tau Ova” pinta Roby tulus.
“Tapi dia berhak tau” bentak Dhan.
“Please Dhan. Aku nggak mau liat Ova sedih. Aku bakal ngegunain sisa waktuku buat bahagiain Ova” lanjut Roby.
Dia hampir putur asa. Tapi akhirnya Dhan mengiyakan.
Dhan juga nggak mau ngeliat Ova sedih apalagi menangis.
“Oke sob, tapi lo juga harus jaga diri lo!” ucap Dhan sambil menepuk pundak Roby yang lemah. Roby mengangguk,
“Pasti Dhan” batinnya.

*****

Selanjutnya Remuk Jantungku part 2

Iklan