Situasi sosial kultural
masyarakat Dusun Tampungan, Sendangtirto, Berbah, Sleman dapat dilihat dari kebiasaan (adat), baik yang berkaitan dengan ritual keagamaan maupun tradisi lokal dari masyarakat tersebut, diantaranya:

a. Selamatan Orang yang telah Meninggal

Tradisi ini dilakukan setiap ada orang yang meninggal dunia dan dilaksanakan oleh keluarga yang ditinggalkan. Adapun waktu pelaksanaannya :

  1. Bertepatan dengan kematian yaitu dengan membaca tahlil
  2. Tiga hari setelah kematian (nelung dino)
  3. Tujuh hari setelah kematian (mitung dino)
  4. Empat puluh hari (matang puluh)
  5. Seratus hari setelahkematian (nyatus)
  6. Seribu hari setelah kematian (nyewu)

b. Upacara Mitoni
Upacara ini diselenggarakan untuk memperingati usia kehamilan yang sudah menginjak tujuh bulan, dengan harapan agar si jabang bayi mendapatkan berkah dari Allah SWT, menjadi anak yang sholih dan sholihah berguna bagi nusa bangsa serta agamanya, juga berbakti kepada kedua orang tuanya.

c. Upacara Kelahiran Bayi
Upacara ini merupakan acara adat bagi setiap orang Islam dalam rangka menjalankan sunah Rasul, Serta rasa syukur terhadap karunia yang telah di berikan oleh Allah SWT, berupa kelahiran anak, yang merupakan amanah yang perlu dijaga dan dirawat, dan dididik. Untuk menjadi generasi penerus yang dapat diandalkan.

d. Upacara Pernikahan dan Khitan
Upacara pernikahan adalah upacara yang sakral yang merupakan kewajiban serta tuntunan dalam syariat Islam, dalam membina rumah tangga. Sedang upacara khitan merupakan tuntunan setiap muslim, yang sudah dilakukan sejak Nabi Ibrahim AS hingga sekarang.

e. Sedekah Bumi
Sedekah bumi merupakan upacara yang dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah SWT karena tanaman-tanaman mereka baik itu padi, palawijo atau yang lainnya berhasil dipanen dengan hasil yang memuaskan. Dengan menggelar acara Do’a bersama kemudian berakhir dengan makan bersama (sedekah).

f. Tradisi Nyadran
Bagi masyarakat Jawa, kegiatan tahunan yang bernama nyadran atau sadranan merupakan ungkapan refleksi sosial- keagamaan. Hal ini dilakukan dalam rangka menziarahi makam para leluhur. Ritual ini dipahami sebagai bentuk pelestarian warisan tradisi dan budaya para nenek moyang. Nyadran dalam tradisi Jawa biasanya dilakukan pada bulan tertentu, seperti menjelang bulan Ramadhan, yaitu Sya’ban atau Ruwah. Nyadran dengan ziarah kubur merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan dalam ritual dan objeknya. Perbedaannya hanya terletak pada pelaksanaannya, di mana nyadran biasanya ditentukan waktunya oleh pihak yang memiliki otoritas di daerah, dan pelaksanaannya dilakukan secara kolektif. Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami. Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu- Buddha dan animisme yang diakulturasikan dengan nilai – nilai Islam oleh Wali Songo.

Iklan